Rumah Sakit Materna Medan | Fakta Gula Dalam Tubuh yang Masih Sering Disalahpahami – Gula sering kali menjadi “tersangka utama” di balik berbagai masalah kesehatan. Tak sedikit orang yang langsung menghindari semua makanan manis karena khawatir terkena diabetes atau mengalami kenaikan berat badan. Di sisi lain, ada pula yang menganggap gula alami bisa dikonsumsi tanpa batas karena dinilai lebih sehat.

Lalu, mana yang benar? Memahami fakta tentang gula sangat penting agar kita dapat mengonsumsinya secara bijak tanpa terjebak oleh berbagai mitos yang beredar. Berikut beberapa fakta seputar gula yang masih sering disalahpahami.
1. Gula Tidak Selalu Buruk bagi Tubuh
Banyak orang menganggap gula adalah musuh kesehatan. Padahal, tubuh tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi utama.
Glukosa, salah satu bentuk gula sederhana, digunakan oleh sel-sel tubuh, terutama otak, sebagai bahan bakar untuk menjalankan berbagai fungsi. Karbohidrat yang kita konsumsi, seperti nasi, kentang, roti, atau buah, juga akan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh.
Yang menjadi masalah bukanlah gulanya, melainkan konsumsi gula yang berlebihan, terutama gula tambahan yang terdapat pada makanan dan minuman olahan.
2. Tidak Semua Gula Memiliki Karakteristik yang Sama
Masih banyak yang menganggap semua jenis gula memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan. Faktanya, terdapat dua jenis gula yang perlu dipahami, yaitu gula alami dan gula tambahan.
Gula alami terdapat pada buah, sayuran, dan susu. Selain mengandung gula, makanan tersebut juga kaya akan vitamin, mineral, serat, dan berbagai nutrisi penting yang bermanfaat bagi tubuh.
Sementara itu, gula tambahan adalah gula yang ditambahkan saat proses pembuatan makanan atau minuman, misalnya pada minuman kemasan, kue, permen, sirup, atau makanan penutup.
Gula tambahan inilah yang sebaiknya dibatasi karena umumnya hanya menambah kalori tanpa memberikan manfaat gizi yang berarti.
3. Makan Gula Tidak Langsung Menyebabkan Diabetes
Ini adalah salah satu mitos yang paling sering dipercaya masyarakat.
Mengonsumsi gula tidak secara langsung menyebabkan diabetes. Diabetes tipe 2 berkembang akibat kombinasi berbagai faktor, seperti pola makan yang kurang sehat, kelebihan berat badan atau obesitas, kurang aktivitas fisik, faktor genetik, dan resistensi insulin.
Namun, konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes tipe 2.
Dengan kata lain, bukan satu sendok gula yang menjadi penyebab diabetes, melainkan pola hidup yang tidak sehat secara keseluruhan.
4. Gula Aren, Madu, dan Gula Kelapa Tetap Perlu Dibatasi
Belakangan ini, banyak orang memilih madu, gula aren, atau gula kelapa sebagai pengganti gula pasir karena dianggap lebih sehat.
Meski beberapa jenis pemanis tersebut mengandung sedikit vitamin atau mineral, kandungan kalorinya tetap tinggi dan tetap dapat meningkatkan kadar gula darah apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Artinya, apa pun jenis pemanis yang digunakan, konsumsinya tetap perlu dibatasi sesuai kebutuhan tubuh.
5. Minuman Manis Menjadi Salah Satu Penyumbang Gula Terbesar
Banyak orang lebih fokus mengurangi makanan manis, tetapi lupa memperhatikan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
Padahal, satu gelas minuman kemasan, teh manis, kopi dengan tambahan sirup, atau minuman bersoda dapat mengandung gula dalam jumlah yang cukup tinggi.
Karena berbentuk cair, minuman manis juga cenderung tidak memberikan rasa kenyang sehingga seseorang lebih mudah mengonsumsi gula dalam jumlah berlebih tanpa disadari.
Mengurangi konsumsi minuman manis merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan.
6. Tubuh Tetap Mendapatkan Gula dari Karbohidrat
Sebagian orang menghindari gula, tetapi tetap mengonsumsi nasi, mi, roti, atau makanan berkarbohidrat lainnya.
Perlu diketahui bahwa karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa selama proses pencernaan. Oleh karena itu, mengurangi gula tambahan bukan berarti tubuh akan kekurangan energi karena kebutuhan glukosa tetap dapat diperoleh dari makanan sumber karbohidrat.
Yang terpenting adalah memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat, seperti beras merah, gandum utuh, oat, atau umbi-umbian.
Berapa Batas Konsumsi Gula yang Dianjurkan?
Menurut anjuran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, konsumsi gula sebaiknya dibatasi hingga maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari untuk orang dewasa.
Perlu diingat bahwa jumlah tersebut merupakan total asupan gula dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam sehari, bukan hanya gula yang ditambahkan ke dalam teh atau kopi.
Tips Mengurangi Konsumsi Gula dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengurangi konsumsi gula tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah diterapkan dalam jangka panjang.
- Pilih air putih sebagai minuman utama dibandingkan minuman manis.
- Kurangi kebiasaan menambahkan gula pada teh, kopi, atau minuman lainnya.
- Biasakan membaca label informasi nilai gizi pada makanan kemasan.
- Pilih buah utuh dibandingkan jus yang diberi tambahan gula.
- Batasi konsumsi kue, permen, dan camilan tinggi gula.
- Perbanyak konsumsi makanan segar dibandingkan makanan olahan.
Gula bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Tubuh tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Namun, konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2.
Kunci utama bukan menghilangkan gula dari pola makan, melainkan mengonsumsinya secara bijak sesuai kebutuhan tubuh. Dengan memahami fakta yang benar dan menerapkan pola makan seimbang, Anda dapat menjaga kesehatan sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit di masa depan.
Jaga Kesehatan Bersama RS Materna
Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, ingin mengetahui kadar gula darah, atau membutuhkan konsultasi mengenai pola makan yang sehat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter di RS Materna. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat.