Pentingnya Terapi Kejut Listrik untuk Depresi yang Kronis

Rumah Sakit Materna Medan | Apakah pentingnya terapi kejut listrik untuk depresi yang kronis? Terapi kejut listrik atau Electroconvulsive Therapy (ECT) merupakan salah satu jenis terapi kesehatan mental yang menggunakan aliran listrik. Aliran listrik ini digunakan untuk memberikan efek utama kejang pada pasien. Dengan munculnya efek kejang, struktur kimia yang ada di otak dapat terpengaruh dan bahkan berubah. Hal inilah yang bisa memicu kesembuhan pada pasien tersebut.Pentingnya Terapi Kejut Listrik untuk Depresi yang Kronis

Mengapa Menerapkan Terapi Kejut Listrik Untuk Depresi Kronis?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi kejut listrik memang efektif untuk meringankan kondisi depresi yang sudah kronis. Pada pasien dengan gangguan mental yang berat, penggunaan obat-obatan biasanya sudah tidak bisa memperbaiki kondisi tersebut. Alih-alih menyembuhkan, konsumsi obat depresi dengan dosis tinggi malah menyebabkan masalah kesehatan lain seperti gangguan pencernaan, susah tidur, bahkan gagal ginjal.

Oleh sebab itu, pada saat dokter atau psikiater menyatakan bahwa obat-obatan sudah tidak mungkin diberikan, maka ia akan memberikan opsi terapi lainnya. Salah satunya adalah terapi kejut listrik atau ECT.

Dalam beberapa kasus, dokter atau psikiater menyarankan pemberian terapi kejut walaupun masih mengkonsumsi obat-obatan. Alasannya adalah untuk mempercepat proses penyembuhan. Dengan demikian, terapi kejut akan diberikan dengan dosis tertentu sesuai dengan diagnosis yang kemudian diiringi dengan pemberian obat-obatan dengan dosis tertentu pula.

Gangguan Mental Apa Sajakah yang Diobati dengan Terapi Kejut Listrik?

Tidak semua gangguan mental dapat disembuhkan dengan terapi kejut. Secara umum, terapi ini diterapkan pada para pasien yang masalah mentalnya terkait dengan ketidakseimbangan zat-zat kimia pada otak. Berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan mental yang bisa diringankan dengan terapi kejut listrik.

  1. Depresi berat yang ditandai dengan beberapa gejala seperti keinginan bunuh diri atau menolak makan,
  2. Depresi kronis yang tidak menunjukkan perubahan bahkan setelah melalui terapi obat,
  3. Maniak berat atau suatu kondisi euforia berlebihan biasanya ditandai dengan kecenderungan melakukan kegiatan berbahaya,
  4. Gangguan bipolar, yaitu suatu kondisi dimana penderita bisa merasakan perubahan suasana hati yang drastis dalam waktu singkat,
  5. Catatonia, suatu gejala skizofrenia yang ditandai dengan pasien sering melakukan gerakan cepat dan aneh,
  6. Agitasi, yaitu suatu kondisi pada pasien demensia yang tidak bisa ditangani dengan obat dan ditandai dengan perilaku berbahaya.

Bagaimanakah Prosedur Terapi Kejut Listrik?

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter atau psikiater akan menyarankan tindakan terapi kejut listrik karena dianggap yang paling efektif. Kemudian pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan fisik untuk mengetahui apakah pasien memiliki riwayat kesehatan yang kontraindikasi dengan prosedur ini.

Sebagai tambahan, beberapa kondisi pasien yang tidak diperbolehkan dilakukan terapi kejut listrik antara lain tumor otak, kematian otot jantung, TBC, fraktur tulang, osteoporosis, dan gangguan pembuluh darah.

Selanjutnya, pada hari terapi dilaksanakan, pasien akan diminta untuk berpuasa selama 6 jam. Setelah itu, pasien diminta untuk berbaring telentang tanpa bantal dengan kepala berada di sebelah alat ECT. Tindakan anestesi akan dilakukan dan perangkat elektronik seperti cuff sphygmomanometer dan lead EKG akan disambungkan.

Tindakan terapi ini dilakukan dengan menempatkan elektroda bilateral pada salah satu bagian otak yaitu lobus temporalis. Setelah stimulasi, pasien akan mengalami kejang tonik dalam waktu 5-10 detik. Jika kejang terjadi lebih dari itu, maka akan segera dihentikan.

Pasca tindakan, pasien dibawa ke ruang pemulihan untuk menjalani monitoring. Beberapa hal yang dimonitor antara lain jalan nafas, denyut nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, dan lain sebagainya.

Apakah Efek Samping dari Tindakan Terapi Kejut Listrik?

Jika kondisi pasien normal, tanpa adanya penyakit yang kontra terhadap terapi ini, maka pasien tidak akan mengalami efek samping jangka panjang. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pasien akan tetap mengalami beberapa efek samping sementara akibat proses anestesi dan stimulasi. Beberapa efek samping yang sering dialami pasien antara lain:

  1. Kebingungan, bisa terjadi selama beberapa menit hingga beberapa jam,
  2. Amnesia retrograde atau kehilangan ingatan pada kejadian sebelum pemberian terapi,
  3. Rasa sakit kepala, mual, nyeri otot, bahkan muntah,
  4. Beberapa pasien juga mengalami gangguan jantung yang cukup serius karena proses terapi mengakibatkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah.

Tinggalkan komentar