Penyakit Paru Interstisial: Tanda-tanda, Diagnosis, dan Terapi

RSU Materna Medan – Penyakit paru interstisial atau interstitial lung disease adalah kumpulan penyakit paru yang ditandai dengan luka dan peradangan kronis pada organ tersebut. Luka ini selanjutnya akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan paru-paru menjadi kaku. Kondisi ini disebut dengan fibrosis paru.Penyakit Paru Interstisial: Tanda-tanda, Diagnosis, dan Terapi

Fibrosis paru akan membuat penderitanya kesulitan bernapas karena tidak adanya pasokan oksigen yang cukup ke dalam aliran darah. Oleh sebab itu, gejala umum paru interstisial yang dialami oleh seseorang adalah napas pendek.

Apakah Penyebab Paru Interstisial?

Penyebab paru interstisial dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu penyebab yang diketahui serta penyebab yang tidak diketahui. Untuk penyebab paru interstisial yang diketahui bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Lingkungan
Paparan material berbahaya dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko seseorang menderita paru interstisial. Material berbahaya tersebut bisa berupa debu batu bara, debu silika serat asbestos, dedak, dan spora jamur

2. Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan tertentu dapat menyebabkan paru interstisial, misalnya obat kemoterapi, obat jantung, dan beberapa obat antibiotik.

Di samping itu, pasien yang menjalani terapi radiasi untuk pengobatan kanker paru atau payudara berpotensi mengalami paru interstisial. Kerusakan pada organ paru biasanya ditemukan berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah menjalani radiasi pertama.

3. Kondisi Medis
Penyakit autoimun seperti dermatomiositis, sindrom sjogren, skleroderma dan radang sendi juga berkaitan erat dengan interstitial lung disease.

Tanda-Tanda Paru Interstisial Yang Harus Diwaspadai

Tanda-tanda atau gejala paru interstisial yang dirasakan oleh setiap orang cukup bervariasi. Selain napas pendek, gejala lainnya yang mungkin muncul yaitu:

  • Batuk kronis hingga berminggu-minggu, biasanya berupa batuk kering atau tanpa dahak
  • Batuk berdarah
  • Nyeri pada dada
  • Hilangnya nafsu makan
  • Turunnya berat badan secara drastis
  • Rasa lemas atau lelah yang berlebihan

Diagnosis Paru Interstisial

Penderita paru interstisial yang memeriksakan diri ke dokter umumnya memiliki keluhan sesak napas dan batuk. Dokter kemudian akan mengidentifikasi penyakit dengan melakukan pemeriksaan dan tes pencitraan paru. Tes tersebut meliputi:

1. Sinar-X Dada
Sinar-X dada adalah pemeriksaan yang paling banyak digunakan pada setiap orang dengan gejala gangguan pernapasan. Hasil rontgen Sinar-X untuk penderita paru interstisial akan menunjukkan garis-garis halus pada organ paru.

2. CT Scan
Penyakit paru interstisial bisa dideteksi dengan pemeriksaan CT Scan. Tes ini bisa memperlihatkan organ paru dan struktur di sekitarnya dengan jelas dan rinci

3. CT Scan Resolusi Tinggi
CT scan resolusi tinggi kerap dipilih oleh dokter untuk melakukan diagnosis paru interstisial. CT scan dengan resolusi tinggi memberikan kualitas visual yang lebih baik untuk melihat interstitium.

4. Pengujian Fungsi Paru
Untuk mengetahui kapasitas paru, dokter juga akan melakukan pengujian fungsi paru pada pasien.
Pengobatan Paru Interstisial

Pengobatan paru interstisial dilakukan setelah dokter melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan melalui tindakan medis berikut ini:

  • Bronkoskopi, prosedur mengambil jaringan paru lewat mulut atau hidung ke saluran udara.
  • Video Torakoskopi, prosedur mengambil jaringan paru menggunakan alat yang dimasukkan lewat sayatan kecil di ujung bawah tulang belikat.
  • Biopsi Paru Terbuka, metode operasi tradisional dengan sayatan besar di dada
  • Apabila penyebab dan jenis penyakit paru interstisial yang dialami sudah diketahui, dokter akan meresepkan obat kepada pasien yaitu:
    • Antibiotik untuk mengatasi sebagian besar penyakit pneumonia interstisial
    • Kortikosteroid yang bermanfaat untuk mengurangi peradangan pada paru-paru

Terapi Paru Interstisial

Selain meminum obat, penderita paru interstisial dianjurkan untuk melakukan terapi. Jenis terapi paru interstisial tersebut bisa berupa terapi oksigen dan terapi olahraga. Terapi oksigen dilakukan untuk meredakan gejala paru interstisial sekaligus mencegah kerusakan jantung akibat kekurangan oksigen. Terapi oksigen bahkan bisa membantu dalam memperbaiki kualitas tidur penderita paru interstisial

Sementara untuk terapi olahraga dilakukan dengan melatih pernapasan dan meningkatkan aktivitas fisik. Terapi ini bertujuan untuk mengoptimalkan kebugaran paru-paru penderitanya. Dengan kombinasi pengobatan paru interstisial yang tepat, risiko kerusakan paru di tingkat yang lebih parah tentu dapat diminimalisir.

Demikianlah ulasan tentang penyakit paru interstisial yang perlu Anda ketahui. Untuk pencegahan berkembangnya penyakit paru interstisial, Anda perlu menerapkan pola hidup yang sehat dan rajin berolahraga. Dapatkan juga vaksin terkait infeksi pada saluran pernapasan di fasilitas kesehatan terdekat.

Tinggalkan komentar