Mekanisme Resistensi Antimikroba Dalam Dunia Medis

RS Materna – Rumah Sakit Medan | Antibakteri merupakan zat yang bisa membasmi bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang tergolong sangat merugikan. Sebagaimana yang diketahui, bahwa mikroorganisme bisa memunculkan bahaya akibat adanya infeksi dan menimbulkan datangnya penyakit sehingga bisa merusak bahan pangan.

Mekanisme Resistensi Antimikroba

Nah, untuk antibakteri ini sendiri masuk sebagai antimikroba yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan dari bakteri itu sendiri. Namun, dalam menjalankan kinerjanya terdapat istilah resistensi antimikroba. Mekanisme resistensi antimikroba dalam dunia medis bisa langsung Anda simak di bawah.

Mekanisme Antimikroba

Awalnya, antimikroba memiliki proses kinerja beraneka ragam dalam menjalankan misinya menghancurkan bakteri sebagai berikut.

1. Antimikroba yang menghambat metabolisme sel
Sebagaimana yang diketahui, mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Mikroba patogen perlu mensintesis sendiri asam folat dari PABA atau asam amino benzoate. Nah, untuk koenzim asam folat ini digunakan mikroba guna kepentingan sintesis purin maupun pirimidin. Selain itu, berguna untuk mensintesis senyawa-senyawa yang diperlukan guna pertumbuhan seluler dan replikasi.

Nah, ketika asam folat tidak ada, otomatis sel-sel tidak bisa bertumbuh maupun membelah. Konsep mekanisme inilah yang menimbulkan efek bakteriostatik atau kondisi bakteri yang bersifat tetap akibat adanya antibakteri. Sementara, untuk jenis antimikroba yang tergolong kedalam kelompok ini yakni seperti sulfon, sulfonamid, asam p-aminosalisilat atau PAS.

2. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding untuk sel mikroba
Selain untuk kondisi yang di atas, bakteri juga juga memiliki struktur dinding sel yang dikenal cukup unik sebab terbentuk melalui unit-unit gliken polimer yang tergabung satu sama lain dengan ikatan berbentuk silang peptide. Nantinya proses tersebut akan membentuk peptidoglikan dinding sel.

Sementara, guna membuat obat bisa bekerja dengan maksimal, maka membutuhkan mikroba yang aktif dan tidak memiliki efek pada bakteri yang tidak tumbuh.

Mekanisme penghancuran terjadi akibat tekanan osmotic di dalam sel lebih tinggi jika dibandingkan dengan tekanan osmotic di luar sel. Itu sebabnya kerusakan yang terjadi akan menyebabkan lisis sebagai dasar dari efek bakterisida di mikroba yang peka. Untuk obat yang tergolong antimikroba ini umumnya berupa vankomisin, sikloserin, basitrasin, penisilin, dan sefalosporin.

3. Antimikroba menghambat sintesis protein sel mikroba
Anda juga perlu tahu bahwa antimikroba membutuhkan adanya sintesis di berbagai macam protein untuk kelangsungan hidup. Sintesis protein ini berlangsung di ribosom dengan bantuan tRNA dan mRNA. Sementara, untuk ribosom sendiri terdiri dari dua subunit pada konstanta sedimentasi sebagai ribosom 30S dan 50S.

Supaya bisa berfungsi, kedua komponen tadi Bersatu di pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S. Nah, untuk penghambatan sintesis protein inilah yang bisa dilakukan antimikroba untuk menghancurkan bakteri yang umumnya ada pada obat golongan makrolid, linkomisin, kloramfenikol, dan aminoglikosida.

4. Antimikroba menghambat sintesis asam nukleat
Selain menghambat sintesis protein sel mikroba, terdapat strategi atau mekanisme lain dari antimikroba dalam menjalankan peranannya. Yakni dengan menghambat sintesis dari asam nukleat sel mikroba. Untuk jenis obat yang tergolong ke dalam jenis mekanisme ini adalah golongan kuinolon dan rifampisin.

5. Antimikroba mengganggu keutuhan membran sel
Selain beberapa mekanisme terakhir, kali ini antimikroba menjalankan tugasnya dengan cara mengganggu keutuhan membran sel dari mikroba atau bakteri. Obat dengan golongan antimikroba satu ini yakni jenis antiseptic seperti surface active agents.

Kandungan polimiksin bisa merusak membrane sel usai bereaksi dengan fosfat di fosfolipid membran sel. Nah, untuk antibiotic ini nantinya akan beraksi dengan struktur steroid sehingga mempengaruhi permeabilitas selektif membran sel mikroba.

Mekanisme Resistensi Antimikroba

Setelah Anda mengetahui mekanisme antibakteri, selanjutnya terkait resistensi bakteri. Pemakaian antibiotik yang terkadang diabaikan sehingga digunakan dengan cara tidak rasional baik akibat tidak tepat atau berlebihan, dianggap menjadi penyebab bakteri berlaku resisten terhadap antibiotik.

Itu sebabnya antibiotik tidak lagi efektif membunuh maupun menghambat aktivitas atau perkembangan bakteri sebagaimana seharusnya sesuai yang dibahas di atas. Tidak hanya itu, resistensi ini juga bekerja akibat penggunaan antibiotik dalam industri agrikultur, termasuk di dalamnya adalah produksi makanan.

Kondisi-kondisi tersebut maupun yang terjadi di kondisi lainnya membuat bakteri bisa menghasilkan enzim penyebab antibiotik menjadi tidak aktif. Kondisi ini bisa menjadi penyebab tersering resistansi berbagai jenis antibiotik. Gambarannya, perubahan enzim diturunkan melalui perantara kromosom dengan cara bertahap atau sekaligus untuk menciptakan resistensi antimikroba.

Sementara itu, strategi lain yakni dengan membentuk jalur metabolik alternatif. Contohnya resistensi terhadap kotrimoksazol akibat adanya enzim dihydrofolate reductase yang resisten kepada antibiotik dari plasmid. Nah, elemen genetik yang bergerak ini menyebabkan penyebaran resistensi antibiotik menjadi lebih cepat.

Itulah penjelasan seputar mekanisme resistensi antimikroba yang perlu Anda ketahui khususnya di dalam dunia medis.

Tinggalkan komentar